Rumipos.com, Makassar, Senin, 05/10/2026 — Latar belakang pendidikan seorang pendidik tidak harus linier dengan bidang yang diampu karena pengalaman beragam justru memperkaya cara mengajar di kelas.
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMK Darussalam Makassar Zaid Buri Prahastyo menyampaikan hal itu.
Ia memiliki ijazah Sarjana Perikanan.
Namun ia tetap berkarier selama 17 tahun sebagai guru BK.
Zaid termasuk guru yang jalannya tidak lurus menuju ruang kelas.
Pengalaman Luas Membentuk Cara Mengajar
Saat mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), ia mengajar murid Asisten Perawat.
Ia membawa ekosistem perairan ke dalam sesi konseling.
Tujuannya bukan mengajarkan perikanan.
Ia ingin menunjukkan pengalaman akademik tidak kehilangan makna saat memasuki ranah profesional berbeda.
Murid membaca kasus dan berdiskusi dalam kelompok.
Mereka saling memberikan umpan balik.
Ada kesepakatan kelas sederhana bahwa tidak boleh baper.
Murid belajar menerima kritik dan memperbaiki gagasan.
Murid yang biasanya pasif mulai terlibat.
Pendidikan Lebih Dari Sekadar Ijazah
Zaid menilai persoalan bukan semata seberapa lurus latar belakang guru dengan materi.
Yang penting adalah sejauh mana pengetahuan membuat murid bergerak dan berpikir.
Penguasaan keilmuan tetap tidak boleh diabaikan.
Guru di luar bidang keahlian butuh kompetensi dan dukungan profesional.
Linieritas adalah fondasi penting tetapi bukan satu-satunya ukuran profesionalitas.
Seorang guru dibentuk oleh pengetahuan, kompetensi, pengalaman, dan refleksi.
Pendidikan pun demikian karena murid tidak hanya membawa nilai rapor.
Mereka membawa keluarga dan kecemasan.
Guru bertugas membantu murid menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan.
Perubahan teknologi dan dunia kerja tidak mengenal batas mata pelajaran.
Pendidikan membutuhkan guru dengan fondasi kuat dan kemampuan menghubungkan perspektif.
“Linieritas adalah garis pijakan, bukan batas imajinasi,” kata Zaid Buri Prahastyo, Guru BK SMK Darussalam Makassar, Senin, 05/10/2026.


