Rumipos.com, Makassar, Sabtu, 24/10/2026 — Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober mengenang peran penting ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan di Surabaya pada 1945.
Awal Mula Sejarah Hari Santri Nasional
Sejarah Hari Santri Nasional bermula dari perjuangan para ulama dan santri yang turut mengamankan kemerdekaan Indonesia.
Pada masa penjajahan, pondok pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga menjadi pusat semangat perjuangan dan cinta tanah air.
Para kiai dan santri membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kemerdekaan serta mempertahankan kedaulatan bangsa.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, ancaman kembalinya penjajahan masih terasa.
Kedatangan pasukan Sekutu yang didorong kepentingan Belanda mendorong para ulama untuk bertindak mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan.
Resolusi Jihad 1945 dan Peran KH Hasyim Asy’ari
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Hari Santri adalah lahirnya Resolusi Jihad pada 1945.
Resolusi ini erat kaitanya dengan peran KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan tokoh ulama berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan.
Melalui Resolusi Jihad, para ulama menyerukan kewajiban mempertahankan tanah air dari ancaman penjajahan.
Seruan ini membangkitkan semangat perjuangan umat Islam, khususnya para santri, untuk membela Republik Indonesia.
Bagi kalangan pesantren, perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan hanya tanggung jawab kebangsaan, tetapi juga kewajiban agama.
Resolusi Jihad menjadi kekuatan moral yang mendorong keterlibatan santri dan masyarakat dalam melawan pasukan asing.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa pendidikan pesantren berkontribusi dalam membentuk nasionalisme dan keberanian membela negara.
Hubungan Hari Santri dengan Pertempuran 10 November 1945
Resolusi Jihad memiliki kaitan historis dengan perjuangan rakyat Surabaya yang mencapai puncaknya pada 10 November 1945.
Dalam pertempuran tersebut, masyarakat Surabaya bersama berbagai kelompok pejuang, termasuk ulama dan santri, melakukan perlawanan terhadap pasukan Sekutu.
Semangat perjuangan yang dibangkitkan melalui Resolusi Jihad memperkuat mobilisasi perlawanan rakyat.
Pertempuran Surabaya dikenang sebagai salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Tanggal 10 November diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.
Keterkaitan kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk kalangan pesantren yang penting dalam sejarah bangsa.
Presiden Joko Widodo Tetapkan Hari Santri pada 2015
Meskipun Resolusi Jihad terjadi pada 1945, Hari Santri baru ditetapkan secara resmi sebagai peringatan nasional pada 2015.
Presiden Republik Indonesia saat itu, Joko Widodo, menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Penetapan Hari Santri didasarkan pada kontribusi besar ulama dan santri dalam perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan negara, dan mengisi pembangunan nasional.
Melalui keputusan tersebut, pemerintah mengakui peran historis pesantren dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Hari Santri diperingati secara nasional setiap tahun, tetapi tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Makna Hari Santri Nasional bagi Generasi Muda
Seiring perkembangan zaman, makna Hari Santri tidak terbatas pada perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan.
Peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Santri masa kini menghadapi tantangan berbeda dibanding generasi terdahulu.
Jika pada masa perjuangan kemerdekaan para santri menghadapi penjajahan secara langsung, generasi sekarang dituntut mampu menghadapi teknologi, pendidikan, ekonomi, dan perubahan sosial.
Nilai kedisiplinan, kesederhanaan, kemandirian, toleransi, dan kepedulian sosial yang diajarkan di pesantren menjadi bekal penting dalam menghadapi perkembangan tersebut.
Pondok pesantren diharapkan terus melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan agama, wawaisa kebangsaan, dan kemampuan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.
Hari Santri Nasional 2026, Momentum Meneladani Semangat Perjuangan
Peringatan Hari Santri Nasional pada 2026 menjadi momentum mengenang jasa para ulama dan santri yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Lebih dari delapan dekade setelah Resolusi Jihad, nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu tetap relevan bagi kehidupan masyarakat.
Semangat persatuan, pengabdian, keberanian, dan cinta tanah air menjadi nilai penting yang perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.
Hari Santri juga mengingatkan bahwa kontribusi terhadap bangsa dapat dilakukan melalui pendidikan, sosial, ekonomi, hingga kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan memahami sejarah Hari Santri Nasional, masyarakat diharapkan semakin menghargai peran ulama dan pesantren dalam membangun Indonesia.
Peringatan 22 Oktober bukan hanya mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga mengajak seluruh generasi melanjutkan pengabdian kepada bangsa dan negara.


