Rumipos.com, Makassar, Minggu, 04/10/2026 — Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menandai pergeseran posisi dari kritikus tajam di luar sistem menjadi penasihat di dalam struktur kekuasaan.
Ironi Posisi Baru
Penulis Herman Kajang menilai kehadiran Rocky di Istana mengandung ironi sekaligus pertanyaan besar.
Bertahun-tahun Rocky berdiri di luar pagar kekuasaan bebas mengkritik Presiden dan kebijakan.
Kini ia duduk di beranda Istana sebagai anggota Wantimpres.
Lembaga ini hanya memberikan nasihat tanpa kewenangan mengambil keputusan.
Keputusan tetap sepenuhnya ada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
Batas Kekuasaan Penasihat
Herman Kajang menyoroti bahwa Rocky memiliki akses tetapi tidak memiliki kontrol.
Ia memiliki suara tetapi tidak memiliki palu keputusan.
Jika nasihatnya tidak diikuti Rocky tetap harus menerima keputusan Presiden.
Ini menjadi batas nyata posisi penasihat.
Risiko Menjadi Ornamen
Publik berhak mempertanyakan apakah kritik Rocky akan tetap tajam di dalam ruangan tertutup.
Kekuasaan memiliki cara halus menjinakkan kritik dengan memberikan kursi.
Kritik berisiko kehilangan daya gigit bukan karena dibungkam tapi karena posisi berubah.
Herman Kajang berharap Rocky tidak menjadi hiasan intelektual kekuasaan.
Ujian Bagi Intelektual
Satu-satunya bukti keputusannya bukan kompromi adalah tetap kritis saat tidak nyaman bagi pemberi kursi.
Bukan kritik aman di ruang rapat saja.
Melainkan kritik yang membuat Presiden berpikir ulang sebelum memutuskan.
Waktu akan menjawab apakah Rocky membawa suara kritik ke Istana atau Istana yang membawa Rocky keluar dari tradisi kritiknya.


