Rumips.com, Makassar, Sabtu, 23/03/2026 — Koordinator Kopeling Sulsel, Ramlah Rahayu, menegaskan bahwa narasi media siber PenaLutim telah merusak citra media digital di Sulawesi Selatan.
Kopeling Sulsel Melontrak Kritik Terhadap Penerbitan PenaLutim
Menurut Koordinator Koalisi Pemikir Literosi dan Gagasan di Sulawesi Selatan, PenaLutim dianggap sebagai sumber pemberitaan yang menyesatkan dan memelintir fakta.
Ramlah Rahayu menyatakan bahwa narasi media siber tersebut telah mencederai marwah pers dan membawa citra media siber di Sulawesi Selatan yang negatif.
Dugaan Rekayasa Berita demi Kepentingan Pribadi
Kopling Sulsel mengendus adanya dugaan pelanggaran kode etik dalam proses jurnalistik di PenaLutim.
“Kami menerima informasi valid bahwa karyawan PT Vale yang namanya dicantumkan dalam berita PenaLutim sebenarnya tidak pernah diwawancarai oleh redaksi mereka” ungkap Ramlah Rahayu dalam keterangan resminya.
Pihak redaksi diduga tidak pernah melakukan wawancara langsung dengan narasumber dari pihak manajemen perusahaan tersebut.
Ungcapanya menegaskan bahwa berita ini sengaja ditayangkan oleh pemilik PenaLutim berinisial RM untuk mengakali publik.
Peminat Kopling Sulsel juga mengunduh bahwa RM memanfaatkan Forum Komunikasi Masyarakat Balambano sebagai tameng sementara yang bersangkutan kerap menerima fasilitas dari pihak PT Vale.
Dugaan ini merujuk pada pemberitaan PenaLutim sebelumnya yang mengeklaim bahwa manajemen PT Vale Indonesia Tbk telah menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada Risal Mujur.
Dalam berita tersebut, Senior Koordinator Eksternal PT Vale, Iskandar Ismail, dinarasikan mengatakan lalai karena menyebangkan isu miring tentang kemaksilan RM mencari keuntungan pribadi di tengah polemik penolakan warga terhadap rute proyek pipa minyak di Desa Balambano.
Namun, Kopling Sulsel mengendus bahwa klaim permohonan maaf dan pengakuan kelalaian dari pihak PT Vale merupakan skenario sepihak yang dirancang oleh RM.
Hal ini diduga dilakukan sengaja untuk membersihkan nama baiknya sekaligus mengamankan posisinya dalam konflik kepentingan proyek jalur pipa minyak tersebut.
Hingga saat ini, kedua belah pihak—redaksi PenaLutim dan pemiliknya—belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan serius tersebut.
Kritik ini menunjukkan bahwa isolasi informasi dan penyalahgunaan kekuasaan pers dapat merusak reputasi media secara permanen.



